Jumat, 28 Juni 2013

Faktor Hereditas dan Lingkungan


BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan hereditas tertentu.Ini berarti, bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya.Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi daripada hereditas dan lingkungan.

B.RUMUSAN MASALAH
          Pada hakekatnya manusia merupakan makhluk paling cerdas di bumi ini, karena dilahirkan mempunyai akal dan hati.Namun, setelah terlahir manusia tentunya membutuhkan suatu pendidikan dan pengetahuan maupun perlakuan yang baik. Dalam proses pembelajaran dan pembentukan itu manusia dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan.”Apa sajakah yang termasuk faktor hereditas dan faktor lingkungan...???”

C.TUJUAN
Ø  Untuk mengetahui pengaruh faktor hereditas terhadap proses belajar anak.
Ø  Untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap proses belajar anak.

D.MANFAAT
Ø  Agar kita dapat memahami tentang hereditas dan lingkungan.
Ø  Agar kita dapat memahami pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap proses belajar anak.












BAB II
PEMBAHASAN

Pada kesempatan ini akan dibahas tentang “Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap proses belajar anak” dalam hubungan ini ada tiga teori yang terkenal yang membahasnya.
Tiga aliran/teori dalam proses perkembangan:
v  Nativisme, (Schopenhauer, Plato, Descartes, Lombroso) menurutnya bahwa perkembangan manusia itu sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor pembawaan yang dibawa sejak lahir.
v  Empirisme, (John Locke) menurutnya bahwa faktor lingkunganlah yang menjadi penentu perkembangan seseorang, baik buruknya perkembangan pribadi seseorang ditentukan oleh lingkungan.
v  Konvergensi,artinya perpaduan antara teori nativisme dengan empirisme yaitu perkembangan ditentukan oleh faktor pembawwan sejak lahir dan faktor lingkungan.

“PENGARUH HEREDITAS TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK”
A.PENGERTIAN HEREDITAS ( Pembawaan )
Menurut Witherington Hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan tingkah laku melainkan struktur tubuh.
Menurut Wikipedia Hereditas adalah pewarisan watak dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen atau secara sosial melalui pewarisan gelar atau status sosial.
Jadi, dapat dikatakan bahwa hereditas adalah pewarisan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua.
Hereditas itu akan membentuk perkembangan dengan memberikan / menyediakan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinannya yang akan diwujudkan melalui proses belajar dengan ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan.

B.FAKTOR HEREDITAS
Faktor hereditas (keturunan dan pembawaan) merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan anak. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai suatu totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan orang tua melalui gen. Penurunan sifat-sifat dari orang tua atau warisan-warisan keturunan bapak,ibu,kakek,nenek yang tidak dapat direkayasa adalah sbb:
1.Bentuk tubuh dan warna kulit
Sebagai contoh salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya ada anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, raut wajah seperti bapaknya, rambut kering dan warna kulit putih seperti ibunya. Bila anak yang pembawaan gemuk seperti ini, bagaimanapun susah hidupnya nanti,ia sukar menjadi kurus, tetapi sebaliknya sedikit saja ia makan, akan mudah menjadi gemuk. Demikian juga rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan kembali menjadi keriting.
2.Sifat-sifat
Sifat merupakan hal yang diwariskan dari orang tua ataupun kakek,nenek. Misalnya adalah sifat boros,kikir,penyabar,pemarah. Sifat sangat berbeda dengan kebiasaaan, sifat sangat sukar dirubah, sedangkan kebiasaan dapat dirubah jika ada suatu niat yang sungguh-sungguh. Bagi pendidik, jika mengetahui sifat atau watak secara mendalam akan sangat membantu dalam kegiatan belajar mengajar. Misalnya ada anak yang minder perlu dibangkitkan semangatnya dan kepercayaan dirinya agar jiwanya tidak tertekan. Kebiasaan meminum minuman keras, mabuk, main judi, dan sebagainya bisa diubah dan dibuang dari diri seseorang. Demikian pula dengan kebiasaan merokok, lambat bagun pagi, tidur siang, malas, dan sebagainya. Semuanya dapat diubah dan tukar dengan kebiasaan yang baik, seperti: rajin, lincah, cepat bangun, jujur,, suka menolong dan sebagainya.
3.Intelegensi
Intelgensi berasal dari kata latin “Intelligence” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (walgoti,1997). Sehingga dapat diartikan pula, Intelegensi adalah kemempuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi dan masalah, intelegensi seseorang dapat diketahui secara tepat dengan tes intelegensi dinyatakan dalam IQ (intelegensi Quotient).
Sebagai contoh yang dapat diambil, contoh seorang anak kecil berumur empat tahun sedang bermain di taman bunga. Ia melihat bunga-bunga berwarna-warni, lari mengejar kupu-kupu, mencium bunga-bunga itu, dan sebagainya. Tindakan-tindakan itu masih berkadar intelegensi yang rendah karena unsur rasionya juga rendah. Akan tetapi anak yang lebih besar, misalnya sudah berumur tujuh tahun, ia menghitung berapa macam bunga yang ada di taman itu dan apa saja warnanya. Tindakan kedua ini sudah lebih berintelegensi daripada yang pertama. Anak yang sudah SMP mungkin sudah dapat menyebutkan warna bunga-bunga itu satu per satu, mengetahui golongan rumpun apa berikut nama Latin mereka. Sementara itu, seorang insinyur pertanian mampu mengadakan perkawinan  silang antara bunga-bunga tersebut.
4.Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. kemampuan khusus itu biasanya adalah suatu keterampilan, misalnya dalam bidang seni musik, seni rupa, seni tari,dsb. Jika anak memiliki bakat dari orang tuanya atau kakeknya ataupun neneknya,tetapi anak tersebut tidak dapat atau tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan/mengasahnya maka bakat tersebut tidak akan berkembang atau sering disebut bakat terpendam.

5.Penyakit
Ada penyakit yang merupakan pembawaan yang merupakan pembawaan sejak lahir yang dapat memperlambat perkembangan/proses belajar anak. Penyakit tersebut antara lain adalah penyakit kebutaan,syaraf,dsb. Penyakit tersebut merupakan suatu penyakit keturunan.


“PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK”
A.PENGERTIAN LINGKUNGAN
           
Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh & membesarkan anak, sekolah tempat mendididk, masyarakat tempat anak bergaul, dan keadaan sekitar dengan iklimnya, faunanya dan floranya. Lingkungan memiliki faktor yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, karena setiap hari yang dilihat dan dihadapi adalah lingkungan. Lingkungan akan mempengaruhi seseorang bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri, jasmaninya serta rohaninya.

B.FAKTOR LINGKUNGAN

1.Keluarga
Keluarga memilki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, karena keluarga adalah tempat diasuh dan dibesarkannya seorang anak. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mapan dan mampu maka akan memilki kesehatan yang baik serta pertumbuhannya yang cepat bila dibandingkan dalam keluarga yang tidak mampu.
2.Sekolah
Sekolah merupakan pendidikan formal yang didapatkan anak, dimana secara sistematis melaksanakan program bimbingan,pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya baik yang menyangkut aspek moral,spiritual,intelektual,emosional maupun sosial. Anak yang tidak pernah bersekolah, akan memiliki keterbatasan dalam ilmu yang dimiliki. Anak yang bersekolah, akan memiliki wawasan yang luas, dan memiliki cara pandang dan berpikir yang berbeda dengan anak yang tidak merasakan bangku sekolah. karena sekolah anak dapat mengembangkan bakatnya serta dapat belajar berbagai ilmu pengetahuan.
3.Masyarakat
Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Kondisi orang-orang dilingkungan sekitar juga mempengaruhi perkembangan anak. Anak yang dilahirkan di kota, akan berbeda pemikirannya dengan anak yang dilahirkan di desa. Anak kota umumnya bersifat aktif, sedangkan anak desa umumnya lamban. Keadaan yang berbeda dari anak desa dan kota itu disebabkan karena lingkungan masyarakat desa dan kota berbeda.
4.Teman sebaya
Perubahan dalam struktur masyarakat menyebabkan pengaruh peran teman sebaya menjadi sangat penting. Perubahan struktur itu antara lain: Ekspansi (Perluasan) jaringan komunikasi diantara kaula muda.

5.Keadaan alam sekitar
Keadaan alam sekitar juga mempengaruhi keadaan anak. Anak daerah pegunungan cenderung akan bersiftat lebih keras dari anak daerah pantai. Perbedaan tersebut adalah akibat dari keadaan alam sekitar  anak tersebut yang berbeda, yang mana dapat mempengaruhi pola pikir atau kejiwaan anak.





























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Demikian penjelasan antara hereditas dan lingkungan terjadi saling keterkaitan dan terjadi interaksi. Setiap faktor hereditas berjalan berbeda menurut keadaan lingkungan masing-masing. Hereditas dan lingkungan memiliki peran yang sama pentingnya dalam perkembangan dan pertumbuhan (proses belajar) anak. keduanya memang mempunyai perbedaan. Pada faktor hereditas (ketunrunan atau internal) lebih mengacu pada warisan atau turunan dari orang tua, sedangkan faktor lingkungan (eksternal) mengacu pada dimana orang tersebut tinggal dan pihak-pihak yang terdapat dalam tempat ia tinggal, baik keluarga,sekolah dan masyarakat. Jadi, hereditas (pembawaan) dan lingkungan bisa saling melengkapi, misalkan pembawaannya kurang baik, dengan dorongan lingkungan maka seseorang akan dapat berkembang secara maksimal. 


DAFTAR PUSTAKA
edukasi.kompasiana.com
duniaguruku.blogspot.com
mymuslim-muslimat.blogspot.com
abdanmatin.blogspot.com

Contoh Kata Pengantar dan Daftar Isi


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini yang membahas tentang “Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap proses belajar anak”. Salam dan salawat semoga tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, Nabi pembawa obor keselamatan dunia wal akhirat. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan,sumbangsi serta partisipasinya dalam  menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Parepare, 7 Oktober 2012
Penyusun


Kelompok V







DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................... .      i
Daftar Isi .............................................................................................................      .  ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ................................................................................................................ .       1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................................................... .       1
C.     Tujuan ............................................................................................................................. .       1
D.    Manfaat ........................................................................................................................... .       1
BAB II PEMBAHASAN
Ø  Tiga aliran/teori dalam proses perkembangan ....................................................................... .       2
v  PENGARUH HEREDITAS TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK ..........................        .   2
Ø  Pengertian Hereditas ............................................................................................................. .      2
v  FAKTOR HEREDITAS .......................................................................................................        .   2
Ø  Bentuk tubuh dan warna kulit ...............................................................................................        .   2
Ø  Sifat-sifat ...............................................................................................................................        .   3
Ø  Intelegensi ............................................................................................................................. .      3
Ø  Bakat ..................................................................................................................................... .      3
Ø  Penyakit ................................................................................................................................ .      4
v  PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PROSES BELAJAR ANAK .................... .      4
Ø  Pengertian Lingkungan ......................................................................................................... .      4
v  FAKTOR LINGKUNGAN ................................................................................................. .      4
Ø  Keluarga ................................................................................................................................ .      4
Ø  Sekolah ..................................................................................................................................        .   4
Ø  Masyarakat ............................................................................................................................ .      4
Ø  Teman sebaya .......................................................................................................................  .      5
Ø  Keadaan alam sekitar ............................................................................................................ .      5
BAB III PENUTUP
Ø  Kesimpulan ........................................................................................................................... .      6
Ø  Kritik ..................................................................................................................................... .      6
Ø  Saran ..................................................................................................................................... .      6
Daftar Pustaka ..........................................................................................................    .     7                                                      

Contoh Sampul





MAKALAH
 “Pengaruh Hereditas dan Lingkungan Terhadap Proses Belajar Anak”


 


Oleh :
KELOMPOK 5
KELAS C.7.1


Ketua kelompok:
Ø  Junardi                                          Nim: 1247141004
Anggota:
Ø  Nurmiati Tahir                               Nim: 1247141006
Ø  Nurhikmah                                     Nim: 1247141039
Ø  Rosmawati                                     Nim: 1247141016
Ø  Dewi Arfianti                                       Nim: 1247141023
Ø  Wahyu                                           Nim: 1247141019



UPP PGSD PAREPARE
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012/2013

Teori-teori Belajar


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Mengapa seorang guru harus menguasai teori-teori belajar?. Jawabannya yaitu Teori belajar akan sangat membantu guru, supaya memiliki kedewasaan dan kewibawaan dalam hal mengajar, mempelajari muridnya, menggunakan prinsip-prinsip psikologi maupun dalam hal menilai cara mengajarnya sendiri. Dengan demikian, tujuan mempelajari psikologi belajar adalah: (Mahfud, 1991: 10)
        Untuk membantu para guru, agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya   membimbing murid dalam proses pertumbuhan belajar.
         Agar para guru memiliki dasar-dasar yang luas dalam hal mendidik, sehingga murid bisa bertambah baik dalam cara belajamya.
         Agar para guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis tingkah laku murid dalam proses pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung, guna meningkatkan ke arah yang lebih baik.
Seorang guru dikatakan kompeten bila ia memiliki khasanah cara penyampaian yang kaya, memiliki pula kriteria yang dapat dipergunakan untuk memilih cara-cara yang tepat di dalam menyajikan pengalaman belajar mengajar, sesuai dengan materi yang akan disampaiakan. Kesemuanya itu hanya akan diperoleh jika guru menguasai teori-teori belajar.
B.     Rumusan Belajar
1.      Kemukakan tentang teori-teori Belajar ?
2.      Apa yang dimaksud teori belajar secara tradisional?
3.      Apa yang dimaksud teori belajar secara modern atau kontemporer?
4.      Dan bagaimana bentuk kemahiran belajar?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Dapat mengetahui tentang apa teori-teori belajar
2.      Dapat mengetahui tentang teori belajar yang tradisional
3.      Dapat mengetahui tentang teori belajar yang modern/ kontemporer
4.      Dapat mengetahui kemahiran belajar
BAB II
PEMBAHASAN
Keinginan untuk memahami hakikat belajar dengan segala problematikannya sudah sejak dulu menjadi obsesi bagi kalangan ahli psikologi.Sebagai bagian dari upaya untuk mengungkapkan seluk belajar tersebut, lahirnya sejumlah teori belajar dimulai dari pandangan yang dilandasi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat spekulatif sampai kepada teori-teori belajar yang tertumpu pada hasil-hasil penelitian atau eksperimen yang dilakuakan secara sistematik sesuai prosedur ilmiah.
A.    TEORI-TEORI BELAJAR
1.      Teori belajar Behaviorisme/Behavoristik (Tradisional)
Behaviorisme lebih memfokuskan kajiannya pada hubungan antara stimulasi dan respons yang dapat diukur atau perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulasi dan respon . Terdapat sejumlah teori belajar yang menganut pandangan behaviorisme, diantaranya ialah : teori classical conditioning (Ivan Petrovitch Pavlov), teori konnektionisme (Edward Lee Thorndike), teori Behaviorisme (John B. Watson), teori kontiguity (Edward Ray Guthrie), dan teori operant conditioning (Burrhus Frederic Skinner) dan teori Clark Hull.
-          Deskripsi singkat dari teori-teori belajar yang berpandangan behaviorisme tentang belajar yaitu:
·         Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Dengan perkataan lain seseorang dianggap telah belajar bila ia mampu menunjjukan perubahan tingkah laku.
·         Yang terpenting menurut teori ini yaitu masukan/input yang berupa stimulasi dan keluaran/output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulasi dan respon itu dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak dapat diamati. Yang dapat diamati hanyalah stimulasi dan respon.


-          Teori belajar menurut yang menganut teori belajar behavoristik/behavorisme.
1.      Teori belajar menurutEdward Lee Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsan terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon yaitureaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/ tindakan.Maka teori ini belajar itu perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar yang berujud kongkrit dan tidak kongkrit.
2.      Teori belajar menurut John B. Watson
Belajar adalah proses interaksi antara stimulasi dan respon, namun stimulasi dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Watson mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap hal-hal tersebut sebagai factor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.
3.      Teori belajar Clark Hull
Belajar adalah proses interaksi antara stimulasi dan respon. Dan teori ini lebih menjurus pada teori evolusi milik Charles Darwin.  Kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulasi dan belajarpun hamper selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
4.      Teori belajar menurut Edward Ray Guthrie
Belajar adalah proses interaksi antara stimulasi dan respon. Tapi menurut Edward Ray Guthrie bahwa stimulasi dan respon hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulasi agar hubungan antara stimulasi dan  respon bersifat lebih tetap, dan respon yang muncul agar sifatnya lebih kuat dan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulasi yang berhubungan dengan respon tersebut.
5.      Teori belajar menurut Burrhus Frederic Skinner.
Belajar adalah hubungan antara stimulasi dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku.
-          Teori ini juga menggunakan prinsip belajar, diantaranya ialah:
·         Reinforcement (Penguatan)
·         Latihan /Pengulangan
·         Pengaktivan Siswa
-          Adapun kritik terhadap teori belajar ini yaitu,:
·         Teori belajar ini dinilai terlalu menyederhanakan masalah belajar yang sesungguhnya. Tidak semua hasil belajar dapat diamati dan diukur. Paling tidak dalam waktu seketika.
·         Teori ini dikritik karena tidak mampu menjelaskan proses belajar yang kompleks.
2.      Teori Belajar Kognitif
Berbeda dengan pandangan behaviorisme yang lebih eksternal, orientasi pandangan dari teori ini lebih bersifat internal (sentral) dalam arti mempersoalkan proses dan fungsi kognitif manusia dalam proses belajar. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melihat hubungan antara stimulasi dan respon, melainkan melibatkan proses berfikir yang kompleks. Terdapat sejumlah teori belajar yang digolongkan sebagai teori kognitif, diantaranya ialah teori kognitif (Bruner), teori belajar bermakna (Ausubel), teori medan (Kurt Lewin), teori Purposif (Tolman), teori belajar kognitif perkembangan Piaget, dan teori pemrosesan informasi.Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh presepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.Belajar merupakan perubahan presepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.


-          Deskripsi singkat teori belajar yang berpandangan kognitif adalah:
·         Belajar pada hakikatnya adalah perubahan presepsi dan pemahaman. Perubahan presepsi dan pemahan tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati.
·         Asumsi dasar teori ini yaitu bahwa setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan itu tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini, proses belajar akan terjadi bila materi pelajaran yang berasmilasi secara klop dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya.
-          Teori belajar menurut yang menganut teori belajar kognitif
1.      Teori belajar kognitif perkembangan Piaget
Perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam memahami dunia, yaitu :
1)Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
2) Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.
3) Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
4) Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.
Perlu diingat, bahwa pada setiap tahap tidak bisa berpindah ke tahap berikutnya bila tahap sebelumnya belum selesai dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan.
2.      Teori belajar menurut Bruner
Dimana perkembangan kognitif seseorang adalah sebagai berikut :
·         Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
·         Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan system penyimpanan informasi secara realis.
·         Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambing tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.
·         Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru, atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.
·         Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.
·         Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.

Pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
1)      Model Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek.Pada tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata.
2)      Model Tahap Ikonik
Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif.
     3)      Model Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
3.      Teori belajar bermakna menurut Ausubel
Teori belajar selama ini masih banyak menekankan pada belajar menghafal.Belajar seharusnya merupakan asmilasi yang bermakna bagi siswa.Materi yang dipelajari diasmilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif.Struktur kognitif merupakan struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual.Teori kognitif banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
Ausubel (dalam Dahar, 1988:137) mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna (meaningful) jika informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Ausubel (dalam Dahar,1988 :142)
Menurut Ausubel, Novak,dan Hanesian ada dua jenis belajar:
               1) Belajar bermakna (meaningful learning)
Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur penertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya.
                   2) Belajar menghafal (rote learning)
Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahiu sebelumnya.
Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna.
Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah :
1)  Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.

2) Diferensiasi Progregsif
Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep- konsep. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail.

-          Beberapa kritikan tentang teori ini yaitu,
·         Pandangan teori ini dinilai lebih dekat kepada psikologi dari pada keteori belajar, sehingga aplikasinya dalam proses belajar-mengajar tidaklah muda.
·         Teori ini dianggap sukar dipraktekan secara murni sebab seringkali kita tidak begitu memahami strukrur kognitif yang ada dalam benak pembelajar, apalagi memilih-milih struktur kognitif tersebut menjadi bagian-bagian yang diskrit.
3.      Teori Interaktionis/Konstruktivistik
Pandangan teori interaktionis bertumpu pada suatu asumsi bahwa tingkah laku, proses-proses mental, dan lingkungan berhubungan satu sama lain secara timbal balik sesuai dengan namanya, teori ini mencoba mengawinkan prinsip belajar teori behaviorisme dan teori kognitif.Terdapat beberapa teori belajar yang dikategorikan berpandangan interaktionis, diantaranya ialah teori perkembangan (Piaget), teori belajar (Gagne), teori Belajar Sosial (Albert Bandura).
Teori belajar kontemporer adalah pembelajaran berdasarkan teori belajar konstruktivisme.Pembelajaran berfungsi membekali kemampuan siswa mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan dalam belajar.Sesuai dengan prinsip belajar teori konstruktivisme, maka dalam pembelajarannya nampak ada pergeseran fungsi guru dan buku sumber sebagai sumber informasi. Guru lebih berfungsi membekali kemampuan siswa dalam menyeleksi informasi yang dibutuhkan.
Contoh teori belajar kontemporer :
1. Operant Conditioning dari B.F. Skinner
2. Conditions of Learningdari Robert Gagne
3. Information Processing
4. Cognitive Development dari Jean Piaget
5. Social Learning dari Albert Bandura
6. Attribution dari Bernard Weiner.
            - Pandangan menurut teori ini, yaitu :
      1. Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne
            Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu
1)  Fase Receiving the stimulus situation (apprehending), merupakan fase seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara.
2)   Fase Stage of Acquition, pada fase ini seseorang akan dapat memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya.
3)  Fase storage /retensi adalah fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
4) Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori.
Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu
 (5) Fase motivasi sebelum pelajaran dimulai guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar
 (6) Fase generalisasi adalah  fase transfer informasi, pada situasi-situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat, siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut.
 (7) Fase penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu, seperti mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka dapat membuat kalimat yang benar.
 (8)  Fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement)
-          Deskripsi singkat dari teori interaktionis yaitu:
·         Di dalam belajar yang terpenting adalah kemampuan seseorang mengabstraksi informasi dari perilaku orang lain, mengambil keputusan mengenai perilaku-perilaku yang akan ditiru, dan kemudian melakukan perilaku-perilaku yang dipilih.
·         Hubungan antar pribadi antara anak dengan orang dewasa menyebabkan anak meniru dan menyerap perilaku-perilaku social, melalui interaksi social, anak melakukan identifikasi terhadap orang tuannya, anggota keluarga yang lain bahkan dengan setiap orang dengan mana anak bergaul.
·         Proses pembentukan tingkah laku ditentukan oleh interaksi antara tiga komponen (Unsur), yaitu tingkah laku, lingkungan dan factor pribadi.












B.     Perbedaan Karakteristik antara pembelajaran tradisional atau behavioristic dan pembelajaran konstruvistik adalah sebagai berikut:
           
Pembelajaran Tradisional/behavioristic
Pembelajaran Konstruktivistik
1.      Kurikulum disajikan dari bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar.
1.      Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
2.      Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.
2.      Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
3.      Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.
3.      Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan.
4.      Siswa –siswa dipandang sebagai “Kertas Kosong” yang dapat digoresi informasi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara diaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswa.
4.      Siswa dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.
5.      Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran, dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing
5 Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
6.      Siswa-siswa biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada goup process dalam belajar.
6        Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja didalam group process


DAFTAR PUSTAKA
Budiningsih, Asri, C. 2005. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta : Rineka Cipta.